Ada gurat penyesalan di hati De..
waktu terus bertalu melalui perjalanan kehidupan ini hingga seolah tiada
menemui rentang yang menjadi penanda bahwa masa itu harus segera dimulai,
ya..masa perubahan yang harus dan mau tidak mau dia lakukan demi kemanusiaan
dan tanggung jawabnya. Setelah sekian waktu, lagi-lagi de terjebak oleh
perasaannya, atau lebih tepat, terjebak oleh keinginan yang sebenarnya menjadi
hasrat. Tapi kali ini, de sudah terlalu jauh, jauh dan jauh terperosok ke
lembah itu.
Pagi ini...de
terbangun dengan sepuing penyesalan yang selalu saja datang belakangan seiring
keadaan yang menertawainya.menertawai kebodohan yang acap kali menghantuinya
ketika dia sedang bersusah payah menggunakan logika diatas intuisi dan perasaan
yang sering kali menjadi boomerang mematikan dalam hidupnya.
Kita tidak
harus dan boleh melayani perasaan kita sampai sejauh ini Dy..Dy harus mengerti,
Dy itu sayangkan sama De”..kerap kali kata-kata itu keluar dari mulut de,
ketika dia merasa telah membuat sebuah kesalahan yang fatal, namun..penyesalan
bagi de bagai orang siuman yang telah lama pingsan dari kealfaan yang
sebenarnya dia mengerti akan kealfaan itu, dia sadar akan kealfaan itu namun
bagaimana mungkin, de dan Dy terjebak dalam Cinta yang membutakan segalanya,
mematikan rasional,menghidupkan intuisi, irrasional bahkan lebih tepatnya lebih
kepada hasrat dan keinginan untuk saling memiliki sepenuhnya...
Tidak...!!!
untuk kali ini aku harus tegas pada perasaanku dan aku harus tegas dan tega
dengan dia, ini juga demi kebaikan dia..” Tekad de dalam hati. Pagi ini, aliran
sungai dihantam bebatuan bagai musikalitas alam yang harmonis, bersama hembusan
udara yang menyejukkan, pepohonan tegak
gagah berdiri laksana pangeran alam yang tengah bersiap mempertononkan
keindahan Ciptaan Tuhan seharian ini.
De tak peduli
dengan pertunjukan Alam kali ini, dia lebih memusatkan perhatiannya kepada
pikirannya yang sedang kalut, selaksa rasa bercampur baur didalamnya, dia ingin
teriak berontak, tapi seperti semuanya mencair ketika memandangi alis
Dy...segurat alis itulah yang menjadikan de tertawan hingga rasional menjadi
barang rongsokan yang tiada harganya bagi de.
Pertama kali
mengenal Dy ketika mereka bersama dalam sebuah kegiatan sosial,de adalah
seorang aktifis sosial,
beraktivitas bagi de adalah gerakan yang
menghidupkan nurani, menajamkan hati dan empati kepada segala sesuatu yang
terkadang tidak memihak, apalagi bagi kaum kecil, proletar, keadilan serupa
barang mahal bagi mereka, apalagi bagi Bangsa ini, keadilan dipecundangi kaum
culas kalangan aristokrat, birokrat kapitalis yang mampu membeli pasal dengan
harga berapa pun, ya..elegi bagi Kaum tertindas. De hadir, memenuhi panggilan
itu, sosoknya menjadi inspirai bagi adik-adik junior nya terutama Dy.
Awalnya
kekaguman Dy pada seorang de alami natural layaknya kekaguman seorang adik
kepada sang abang, sosok de yang begitu menginspiratif, penuh dengan kewibawaan
dan kedewasan itu lama kelamaan mengubah rasa yang biasa tadi berubah menjadi
begitu tak biasa.
“ bang...salah ga...jika ada seseorang, yang
menyukai seorang pria tapi pria tersebut sudah ada yang memiliki...?” pada suatu saat, sms di hp de berdering, “Dinda cinta ga pernah salah, namun perasaan
kita dalam menanggapi cinta tersebut selalu berada pada tempat yang
salah..cinta itu universal, selalu saja suci dan tak akan terkontaminasi, namun
pemikiran, sikap dan tindakan kita lah yang selalu salah dalam menanggapi cinta
tersebut.letakkanlah cinta tersebut pada sewajarnya dan ditempat yang
sewajarnya.” Begitu bijaksana balasan sms de pada Dy, namun De tak
menyadari bahwa sesungguhnya Dy telah menyatakan itu kepadanya, bahwa yang
disukainya adalah De, dan yang menyukai itu adalah Dy.
“nih ada buku bagus Dy...menurut
abang...untuk dy yaaa...ntar kalau udah selesai baca presentasikan sama abang
yaaaa..”suatu saat Dee mampir ke rumahnya memberikan sebuah buku kepada Dy,
ternyata, de pun tidak pernah memungkiri perasaannya ternyata didalam
sanubarinya juga merasakan hal yang sama, ada rasa simpatik , kekaguman seorang
abang kepada adiknya. Ya, seorang adik yang periang, penuh ketulusan, keinginan
untuk berproses memaknai kehidupan dan kebenaran membuat De tertarik dengannya.
Dy adalah adik
semester didalam perkuliahan de. Dy menjadi teman diskusi De, mereka selalu
berdiskusi tentang segala hal, tentang kehidupan, ke Tuhanan, kondisi-kondisi
sosial dan sebagainya. mereka selalu berdiskusi dimanapun, di jalan, di bawah
Pohon nan rindang, di rerumputan, setiap kali mereka bertemu, tak lain dan tak
bukan adalah membahas tema diskusi.
Mereka
memiliki hoby yang sama, Membaca. Duduk diperpustakaan berjam-jam adalah kegemaran
mereka, terkadang mereka berdebat, tentang sesuatu hal, de dengan
argument-argument ilmiahnya, Dy dengan bantahan-bantahan logisnya, mereka
seakan dua insan yang saling melengkapi.memiliki keistimewan-keistimewan yang
berbeda satusama lain.
Seiring
berjalannya waktu.perasaan yang tak biasa itu kian tumbuh dan berkembang dihati
mereka. Hingga sampai di suatu ketika
“ Bang ngerasa ada sesuatu yang tidak benar di
hati ini Dy...tapi ini tidak boleh, bang telah mengkhianati persahabatan kita..”
De menatap alis indah Dy dengan
penuh kesenduan “kenapa bang, apa yang
salah? Dy merasa penasaran. “ abang
suka sama Dy bukan hanya sebatas sewajarnya, kini rasa itu teah melampaui batas
normal, maafkan bang” De tertunduk membisu lalu melanjutkan kembali “bang sadar, dan harus membuang jauh-jauh
perasaan ini, perasaan ini tidak benar dan keliru abang...Dy menyela
pembicaraan De..” bukan kah bang bilang
perasaan itu tidak pernah salah, biarkan saja mengalir apa adanya??Dy ngerti
bang...jauh sebelum abang ucapin ini, Dy telah terlalu lama menahan perasaan
ini..Dy sayang abang, DY suka sama bang melebihi apapun didalam diri Dy... (matanya
berbinar-binar ada bendungan tampak dikelopak mata Dy menahan tangisan yang
nyaris ngarak ke pipi)..”Dy...(De
menatap penuh haru)...benarkah itu...?
Dy mengangguk saja tanpa berucap sedikitpun..ahhh....Biarlah mengalir apa adanya....Tuhan kan menunjukkan kalau
perasaan ini benar adanya...
*******
terusin yha
ReplyDeleteditunggu